Musyawarah Warga Madawirna XXXII

Suasana Musyawarah Warga Madawirna XXXII

Tebing, Tuhan dan aku

Pemandangan dari pitch 2 tebing parangndog

Pantai

Salah satu pantai barisan pantai yogyakarta selatan

Jalan Terjal

Perjalanan turun dari Kawah Gunung Sumbing

Semburat Cahaya

Pos 7 Gunung Slamet via Bambangan

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Divisi Gunung Hutan Madawirna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Divisi Gunung Hutan Madawirna. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Hidden Paradise di Ujung Timur Pantai Selatan Gunung Kidul

Hangatnya terik matahari di siang hari waktu itu, tanggal 9-11 Agustus 2016 tidak menyurutkan semangat kami yang terdiri dari saya (Inggit), Mbak Beluk (Diah), serta 2 orang purna warga Mas Krisna dan Mas Coy menuju pesisir timur Gunung Kidul untuk berkegiatan susur pantai. Pukul 13.00 WIB kami berangkat dari rumah Mas Krisna yang bertempat di Jl.Wonosari KM 9 menuju Pantai Sadeng. Kami sampai di Pantai Sadeng pukul 15.30 WIB. Kapal-kapal nelayan serta kapal patroli yang berjajar rapi di bibir pantai menambah keindahan pantai ini, ditambah mercusuar yang berdiri gagah serta batu-batu semen pemecah ombak yang tersusun rapi. Tidak lupa, disini kami mengabadikan keindahan pantai ini serta beristirahat sejenak sambil menikmati segarnya es teh.

Mercusuar di pantai Sadeng

Pukul 16.00 WIB kami menyudahi menikmati keindahan Pantai Sadeng dan melanjutkan perjalanan menuju pantai-pantai indah lainnya. Kami menuju Pantai Krokoh. Jalan menuju pantai ini membuat kami seperti di arena off-road. Pukul 16.30 WIB kami sampai di SongBanyu tepatnya di rumah Bapak Suparmo guna menitipkan motor karena kami akan menyusuri pantai selama 3 hari 2 malam. Dari rumah beliau, kami berjalan kaki selama setengah jam untuk sampai di Pantai Krokoh. Sesampainya di Pantai Krokoh, tak seorangpun disana, melainkan hanya kami berempat. Pemandangannya sungguh indah. Perpaduan antara pasir pantai, batu-batu, tebing, tumbuhan-tumbuhan pantai serta deburan ombak sangat memanjakan mata kami, ditambah suasana sore hari yang teduh seketika menghilangkan rasa lelah kami. Pantai ini benar-benar masih “perawan”, tak ada tanda-tanda kehidupan manusia disini. 

Welcome to private beach mbrong.. 
Penampakan Pantai Krokoh
Iki lho sing jenenge vitamin sea.

Setelah tekagum dengan keindahan pantai ini, kami membangun dome lalu masak, tidak lupa hammock-hammock dipasang untuk bersantai dan untuk tidur. Setelah masakan matang, kami langsung makan malam ditemani bulan, bintang-bintang dan suara ombak. Malam itu begitu indah sehingga membuat kami enggan untuk melewatkannya sehingga kami tidur larut malam. Disana, kami menikmati malam dengan menikmati hangatnya kopi, susu, serta hangatnya wejangan-wejangan yang diberikan para purna kepada saya dan mbak beluk. 


Anak wedok lagi nginjek-injek balungan tua bapake
         Malam semakin larut dan indah, bintang semakin banyak, ombak semakin pasang, dan bulan semakin terang, tapi apalah daya saya sudah sangat mengantuk sehingga saya masuk dome dan tidur.
Matahari sudah memancarkan sinarnya, lalu kami masak kemudan makan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pukul 10.00 WIB kami memulai perjalanan menuju pantai selanjutnya. Kami berjalan ke arah timur melewati ladang warga dan memutari bukit. Tak ada 15 menit kami sampai di Pantai Jujugan, tetapi kami hanya diatasnya karena pantai ini sangat kecil dan tidak ada akses untuk ke bibir pantai. Selanjutnya, kami berjalan lagi ke arah timur memutari bukit dan melewati ladang warga. Di perjalanan menuju pantai selanjutnya, kami menemukan enter gua cukup besar lalu kami eksplore dan ternyata hanya chamber.

Mulut Gua tampak depan

Tak jauh dari situ, kami menemukan pohon besar yang indah, banyak bunganya, pohon itu bernama pohon dadap. Dari pandangan kami terlihat 3 pohon dadap besar berjajar lurus dan pohon ini dikenal sebagai batas antara Gunung Kidul dan Wonogiri, disini juga terdapat tugu kecil pembatas 2 wilayah tersebut.


Pohon Dadap
Tugu Batas Propinsi DIY-Jateng

Tidak lama kemudian kami sampai di Pantai Dadapan. Pantai ini juga masih “perawan”, kami disini hanya bertemu dengan 2 orang yang sedang memancing, tak ada wisatawan satupun. Pantai ini sungguh menawan dengan batu-batu indah yang terkikis ombak, pasir yang sangat bersih, dan ombak yang besar. Siang itu sungguh panas sehingga kami beristirahat sejenak dengan berteduh di pohon dan menikmati segarnya jeruk serta memandang pemandangan pantai dadapan yang menakjubkan.\


Cantik dan manisnya Pantai Dadapan

Setelah cukup menikmati pantai ini, kami melanjutkan perjalanan. Tak sampai 10 menit kami sampai di Pantai Banyu Kesirat. Akses menuju bibir pantai ini lumayan menantang, tetapi pemandangan yang disuguhkan sungguh menawan..

Terlalu indah jika hanya melewatinya, lungguh-lungguh sik lah.... * Pantai Banyu kesirat

Setelah itu kami berjalan lagi ke timur, memutari bukit dan 20 menit kami sampai di Pantai Klokop. Di pantai ini terdapat bangunan yang sepertinya dulu bekas dermaga, di pantai ini kami beristirahat sejenak sambil menikmati segarnya air kelapa muda hasil panjatan Mas Coy. Setelah itu, kami berjalan ke timur menaiki bukit, dan kami melihat ada bangunan tak beratap di atas bukit. Setelah sampai di atas bukit, kami menemukan lantai berkeramik yang cukup besar dan cocok untuk beristirahat. Disana terlihat jelas bukit-bukit hijau yang tersusun indah, pantai Klokop dan Pantai Sembukan, serta birunya laut lepas. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Rasanya ingin berlama-lama di tempat itu.

Add caption
Lukisan Tuhan memang lebih dari indah... * pantai Sembukan

Kemudian kami menuju Pantai Sembukan. untuk menuju Pantai ini aksesnya sangat mudah, sudah ada tangga yang tersusun rapi menuju bibir pantai. Pukul 15.00 WIB kami sampai di pantai Sembukan. Pantai ini sudah merupakan tempat wisata, fasilitasnya pun sudah lengkap. Kami langsung beristirahat sambil menikmati segarnya es teh di warung. Sambil beristirahat, kami menikmati music yang diciptakan dari benturan ombak dengan tebing, dan angin yang membuat saya terlelap. Tak terasa sudah pukul 16.30 WIB dan karena tidak ada tempat yang recommended untuk membangun dome di dekat bibir pantai maka kami menuju taman yang luasnya cukup lebar tetapi disini tidak dapat melihat pantai. Disini kami masak-masak dan barbequean bermodalkan sosis toples dan kecap. Karena disini memungkinkan untuk memasang beberapa hammock dan dekat tempat berteduh maka kami tidak mendirikan dome.

Dome gak ada esensinya disini. Hihihi

Setelah makan, saya tiduran di hammock sambil menikmati indahnya bintang-bintang yang indahnya sama seperti bintang-bintang yang saya lihat di Pantai Krokoh. Saya dan mbak Beluk tiduran di hammock sementara Mas Krisna dan Mas Coy mengobrol sambil ngopi dan ngrokok. Tak terasa saya tertidur dan terbangun sekitar tengah malam, terlihat Mas Krisna, Mas Coy, dan seorang bapak tua sedang mengobrol asik. Entah apa yang mereka obrolkan, pastinya obrolan senior yang mungkin saya belum paham. Hehe. Di pagi harinya, kami berencana ingin masak tapi apa daya air kami habis dan harus menunggu warung buka. Karena sudah sangat lapar, terpaksa kami memasak mie dengan air laut, dan rasanya lumayan membuat kami jadi lebih melek karena asinnya mie yang kami masak. Setelah menunggu lama, akhirnya warung buka dan kami memborong air yang ada di warung tersebut. Kemudian kami memasak masakan yang benar-benar masakan. Setelah makan, kami packing dan kembali ke Pantai Krokoh kembali. Kami berangkat pukul 11.00 WIB dari Pantai Sembukan, berjalan dan sampai di Pantai Klokop pukul 11.15 WIB. Setelah melewati Pantai Jujugan, ada 2 cabang, 1 ke arah Pantai Krokoh dan yang 1 ke arah yang dilihat dari jauh terlihat keindahan yang sayang sekali kalau tidak dikunjungi. Lalu kami kesana. Setibanya disana, terlihat batu karang yang besar-besar yang bisa kami pijak dan dari situ terlihat hamparan laut luas dan pantai Jujugan.

Surga dunia banget kan mbrong....* Pantai Jujugan
Lihat deh, jadi bumi itu datar atau bulat..? wkwk
                 
        Lumayan lama kami menikmati indahnya ciptaan Tuhan di tempat itu. Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami sampai di rumah pak pukul WIB, beristirahat sebentar sambil jagongan dengan tuan rumah lalu pulang menuju secretariat tercinta Madawirna. Susur pantai kala itu membuat saya pribadi bangga menjadi warga Yogyakarta yang memiliki surga-surga tersembunyi, dan saya sebagai pecinta alam berharap siapapun yang mengunjungi surge-surga tersebut selalu menjaga keperawanan lingkungannya dan saya sangat bersyukur diberi kenikmatan oleh Allah SWT dapat merasakan indahnya surge-surga dunianya. Salam lestari.

Oleh: Inggit Rachmawati (B-1146)


Sabtu, 21 Maret 2015

Anak Tangga Gn Sumbing Jalur Butuh Memang Aduhai

( Pendakian Warga Baru 2014, Madawirna, Gn Sumbing Via Butuh Kaliangkrik )

Mapala UNY, Madawirna


      Sumbing dengan dengan ketinggian 3.371 mdpl, itu yang kami piih untuk perjalan kali ini. Dan jalur yang kami pakai adalah mbutuh, kaliangkrik. Memang jalur ini sudah familiar dengan beberapa kegiatan MAPALA UNY MADAWIRNA sebelumnya. Jumat, 13 Maret 2015, kami, rombongan dari MAPALA UNY MADAWIRNA berjumlah sembilan orang yang beranggotakan Mas Coy, Mas Ismu, Alfi, Son, Heni, Ginanjar, Brigita, Fajri, dan Sevi berangkat untuk melakukan pendakian gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik. Tepatnya pukul 16.00 WIB, kami berangkat dari sekretariat  dengan sepeda motor berbonceng-boncengan. Kurang lebih dua jam perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ke tempat kediaman Mas Maman, salah satu  purnawarga (sebutan untuk alumni Madawirna), yang rumahnya terletak di Kaliangkrik. Sambutan yang ala kadarnya tapi sangat sarat akan kekeluargaan dari keluarga mas maman. Teh hangat, kopi panas serta makanan tradisional kami lahap tak lupa makan malam juga.  Setelah sholat isya atau tepatnya pukul 20.15 WIB kami berangkat menuju basecamp rumah kepala dusun dan bertambah anggota mas maman yang akhirnya memutuskan untuk ikut pendakian, sehingga personil kita menjadi sepuluh orang.
    Sesampai di basecamp kami beristirahat sebentar, sambil beramah tamah dengan kepala dusun, pak Lilik. Banyak percakapan yang bicarakan, karna memang dulu MAPALA UNY MADAWIRNA selalu dan sering berkegiatan di sumbing lewat jalur Kaliangkrik untuk prosesi pemantapan 4 dalam proses Penerimaan Warga Baru. Setelah dirasa cukup baru kita melakukan pemanasan dilanjut dengan berdoa bersama, kemudian mulai mendaki pukul 22.00 WIB. Pendakian sampai camp 2 melewati tangga tanah yang sangat panjang dan melelahkan jiwa raga kami. Sekitar 2 jam lebih kami berjuang sekuat tenaga melewati tangga tanah itu menuju camp 2. Tapi rasa lelah kami sedikit terobati dengan adanya pemandangan cantik dari atas. Bagaikan bukit bintang versi lain, meeen.
   Hawa dingin mulai menusuk tulang, di camp 2  kami langsung memasak air dan mendirikan tenda dome untuk bermalam. Kopi dan cemilan serta obrolan hangat menjadi pengantar tidur kami untuk menyambut hari esok dan melanjutkan perjalanan. Cuaca kurang bersahabat, kami terlelap diiringi hujan yang cukup deras.

Mapala UNY, Madawirna
Suasana pagi hari di Camp 2
   Pukul 05.00 WIB, waktu yang dijadwalkan untuk bangun, PJ bangun, Alfi, mulai membangunkan teman-teman lain. Hujan masih turun, membuat udara semakin dingin dan kami enggan untuk berpisah dengan sleeping bag. Sekitar pukul 06.00 WIB, semua personil baru berhasil bangun dan beraktifitas. Setelah sarapan, dengan semangat yang membara, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Jalan yang kami lalui cukup terjal dan hanya cukup dilewati 1 orang, bertepi jurang. Tapi, lagi-lagi kami disuguhi pemandangan yang luar biasa tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Petchyaaah meen....!!

Mapala UNY, Madawirna
Pemandangan di atas Camp 2
    Sekitar satu jam berjalan, kabut mulai menyelimuti. Walau begitu, semangat kami untuk menggapai puncak tidak surut. Kami terus mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah. Setelah hampir perjalanan 1 jam kami sampai di camp 3 dan beristirahat, tidak lupa selfie. Setelah dirasa cukup kami berjalan lagi, dan 1 jam kemudian sampai di sungai terakhir. Jadi, total sungai yang kita lewati ada 9 sungai. Disini kami beristirahat lagi karena banyak batu besar yang nyaman untuk melepas lelah.

Mapala UNY, Madawirna
Istirahat melepas lelah di Sungai Terakhir
    Hujan rintik-rintik mulai turun, kami terus berjalan, akhirnya sampai juga kami di camp 4 atau lebih kerap disebut Pohon Tunggal, karena memang cuman ada satu pohon yang berdiri disitu. dan sampai pada puncak Kaliangkrik. Kami tidak berlama-lama karena udara sangat dingin. Hari semakin sore, hujan bertambah deras, kabut masih saja menyelimuti. Selanjutnya kami turun ke sabana, naik ke kawah, lalu turun ke pasir putih. Di pasir putih kami jadikan tempat untuk nge-camp. Hujan turun sangat deras. Dengan berbalut raincoat kami mendirikan tenda dome dengan tubuh menggigil kedinginan. Setelah dome berdiri kami membuat minuman hangat, bercengkrama sebentar. Pukul 17.00 WIB kami tidur part 1. Malamnya kami bangun pukul 19.30 untuk memasak makanan. Menu yang kami pilih waktu itu adalah ayam goreng, tempe goreng serta lotek. Walaupun sangat enggan rasanya keluar dome di udara sedingin itu, kami harus beraktifitas dan makan agar tubuh lebih hangat. Setelah semua selesai, makan dan beres-beres, kami tidur part 2, berdo’a supaya esok cerah dan bisa sampai puncak sejati mengejar sunrise esok harinya.

Mapala UNY, Madawirna
Milkyway di kawah pasir
    Pagi itu cuaca terlihat cerah, kami bangun pukul 04.30 WIB, dan bersiap untuk mendaki puncak sejati gunung Sumbing. Karena persiapan terlalu lama, kami baru bisa mulai pendakian pukul 06.00 WIB, dan sampai puncak pukul 06.20 WIB. Ada 8 orang yang ke puncak, yaitu mas Ismu, Son, Heni, Alfi, Ginanjar,Lili, Sevi, dan Fajri, sedangkan mas Coy dan mas Maman menunggu dome serta memasak. Puncak saat itu berkabut, tapi kami tetap bersyukur atas karunia Tuhan atas keindahan alamnya. Tak lupa kami berfoto bersama dengan banner 40th MAPALA UNY MADAWIRNA. Kabut tak kunjung memberi kesempatan pada matahari untuk sekedar mengintip dan menyemburatkan sinarnya. Kami turun setelah puas berfoto dan menikmati dinginnya puncak Sumbing.

Mapala UNY, Madawirna
Puncak Sejati Gn Sumbing
    Di bawah, kami sudah disambut kopi dan susu hangat buatan mas Coy. Kami melepas lelah sejenak, kemudian dilanjut memasak untuk memberi asupan gizi yang cukup, tentunya bukan sekedar buat mie dong. Menu pagi itu telur rebus dengan sayur yang dicampur sosis Setelah siap kami melahap sarapan dan melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Sebelum menuruni gunung, kami melakukan seremoni tradisi syukur ala Madawirna. Yaitu dengan membentuk lingkaran dengan tangan saling berpegangan satu dengan yang lain sambil menyanyikan lagu Syukur dan di akhiri dengan Doa bersama yang di pimpin oleh yang palig tua biasanya. Seremoni ini kami lakukan bukan hanya untuk meneruskan tradisi semata, tetapi memang untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Kuasa atas limpahan karunianya sehingga perjalanan kami ini bisa sampai Puncak dengan Selamat. Doa kami panjatkan agar selalu di berikan kelancaran da keselamatan agar sampai di rumah dengan tidak kurang suatu apapun agar kami bisa kembali untuk menjelajahi keagungan Alam Ciptaan-Nya.

Mapala UNY, Madawirna
Seremoni tradisi Syukur Madawirna
    Pukul 09.00 setelah melakukan pemanasan, kami mulai berjalan. Kami sempat berhenti di kawah, sabana, puncak Kaliangkrik, sungai terakhir, untuk berfoto dan beristirahat. Hujan gerimis mulai turun, kami terus berjalan menghiraukan rasa lelah kami. Di camp 2 kami beristirahat dulu untuk memasak mie sekedar untuk mengganjal perut dan untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuruni tangga-tangga yang menurut kami sangatlah horor. Kenapa kami menyebut horror bukan karena ada Mystiknya tetapi karena jumlah anak tangganya yang jumlahnya aduhai untuk di lalui. Bagi yang sering mendaki gunung, anak Tangga di jalur pendakian adalah momok yang bisa membuat dengkul sudah lemes duluan, apalagi pas melewatinya. Bagaikan test kekuatan persendian kita. Apalagi yang sudah Tuaa.. kayak Mas Coy dan Mas Maman…selamat menikmati tangganya Mas…hahahaha.
  Tantangan terakhir akhirnya kami lalui, kurang lebih 1,5 jam kami berhasil sampai basecamp dengan selamat, tetapi kondisi kaki tremor ( bergetar sendiri ) serasa malayang-layang setelah melewati anak tangga yang berjumlah ± 2600. Tak berselang lama setelah semua bersiap, kami berpamitan pada kepala dusun pak Lilik dan mengendarai motor pulang ke Jogja. Sebelum pulang kami mengantar mas maman ke rumah, dan disana disuguhi teh anget sepaket dengan makan sore.
   Alhamdulillah, rasa lelah kami terbayar dengan betapa nikmatnya lukisan Tuhan YME. Alam adalah sarana terbaik untuk kembali mengingat betapa kita terlampau kecil di antara kebesaran Tuhan. Terimakasih Tuhan, Engkau masih memberi kami kesempatan untuk menjelajah dengan mesra keagungan alam ciptaan-Mu.

Mapala UNY, Madawirna

Mapala UNY, Madawirna


Mapala UNY, Madawirna


Mapala UNY, Madawirna


Mapala UNY, Madawirna



Oleh : Isna Alfiyah  ( Warga Baru 2014 )

Sabtu, 03 Januari 2015

Tahun Baru Di Gunung Lawu Via Candi Cetho


Madawirna UNY di Gn lawu via Candi Cetho
        Selasa, 30 desember 2014 8 warga MADAWIRNA melakukan perjalanan ke gunung lawu via candi cetho untuk tahun baruan, personil ada fajri, wisnu, dian, rlita, lina, fita, freggy, dan mas coy. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan sepeda motor. Berangkat dari sekretariat madawirna pukul 14.00, selama perjalanan kami sempat istirahat sejenak di warung daerah karanganyar, setelah itu kami lanjutkan perjalanan, lalu sampai di karang pandan kami berhenti dan bertemu simbah sarap yang tidak lain adalah TTM (teman-teman MADAWIRNA), dan melanjutkan perjalanan bersama.

       Pukul 20.00 kami sampai di basecamp candi cetho, istirahat sebentar lalu langsung start untuk ngecamp di pos 2. Mulai jalan melalui pinggiran candi cetho, dari basecamp ke pos 1 menghabiskan waktu kira-kira 1 jam, trek yang dilalui masih landai dan berada di pinggiran sungai, dari pos 1 ke pos 2 kira-kira menghabiskan waktu 1 jam 30 menit, trek dari pos 1 ke pos 2 lumayan berat karna trek berupa tanah lempung dan licin. Tiba di pos 2 kami langsung ngecamp, fajri, wisnu, mas coy, fita, freggy dan simbah membangun dome yang berjumlah 3 dome, sedangkan lina, dian dan rlita masak untuk makan malam, setelah dome selesai dibangun dan makanan sudah siap, kami langsung makan, setelah itu kami bermalam di pos 2. 

        Pagi hari kami bangun, ada yang membongkar dome dan memasak, setelah itu kami siap melanjutkan perjalanan. Pukul 09.00 kami  mulai dari pos 2 menuju ke pos 3. Trek yang dilalui hampir sama dengan pos 1 ke pos 2, tapi tumbuhannya lebat, kira-kira perjalanan 1 jam sampai di pos 3, di pos 3 kami bertemu rombongan lain yang sedang membangun dome di pos 3, kami sempat mengambil air dari pipa di samping pos 3. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke pos 4 kira-kira 1 jam perjalanan trek yang dilalui masih sama dengan sebelumnya, dari pos 4 ke pos 5 masuk ke vegetasi pinus trek terasa berat karna hujan yang mulai turun, tak jarang personil kepleset karna licinnya medan yang harus ditempuh, perjalanan ke pos 5 kira-kira membutuhkan waktu 1 jam. 

        Kami sempat beristirahat sebentar di pos 5, lalu melanjutkan lagi dari pos 5 ke hargo dalem, sampai di hargo dalem atau mbok yem “warung tertinggi di indonesia” kira-kira jam 19.00, karna di hargo dalem tidak dapat tempat untuk ngecamp maka kami lanjutkan naik sampai kira-kira 10 meter dibawah puncak dan kami ngecamp disana, membangun dome dan mulai masak untuk makan, karna udara yang begitu dingin kami semua tidak ada yang keluar dari dome untuk melihat perayaan tahun baru, lalu pagi harinya setelah beres-beres kami jalan ke puncak dan kijang lawu, kami langsung foto-foto di puncak dan kijang lawu, kami berpisah dengan simbah sarap karna simbah turun via cemoro kandang, sedangkan kami turun via cetho lagi. 

         Perjalanan turun mulai pukul 11.00 dari puncak langsung jalan sampai pos 5, istirahat sebentar dan langsung gaspol dari pos 5 sampai basecamp, sampai di basecamp pukul 17.30, kami sempat masuk ke kawasan candi dan mengambil beberapa foto. Lalu dari basecamp, kami pulang naik motor, kami sempat main dan menginap di rumah salah satu purna MADAWIRNA yaitu bang tarmizi yang berlokasi di colomadu, solo. Esok harinya kami melanjutkan perjalanan pulang ke sekretariat MADAWIRNA dan sampai kira-kira pukul 11.00.





NANTIKAN PERJALANAN KAMI SELANJUTNYA... SALAM LESTARI  

Jumat, 05 Desember 2014

Madawirna Goes to MBSC 16 Part 2


Belajar untuk memahami peran kami
Mapala UNY, Madawirna
Taman Nasional Meru Betiri


Jumat 28 november 2014 pukul 06.30 kami sudah mulai bangun dan mempersiapkan diri untuk mengikuti materi. hari ini sampai 3 hari kedepan kami akan bergelut dengan 17 materi pendukung dalam proses pembinaan sebagai kader konservasi. Kehutanan Umum, Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistem, Analisa Vegetasi, Herbarium, Flora Fauna Indonesia, Hitung Karbon, Pengamatan Burung, Karnivor Besar Dan Plastercast, Ekologi, Analisa Air, Flora Unggulan TNMB, Fauna Unggulan TNMB, Global Warming, Ekowisata Dan Interprestasi, Pengamatan Masyarakat, Jurnalistik Lingkungan Serta Advokasi Lingkungan.

Dalam garis besar kami diberi banyak sekali materi-materi yang berkaitan dengan konservasi alam dan lingkungan. Hubungan pencinta alam dengan lingkungan sekitarnya.  Bukan hanya itu, materi ruang kami  juga di bumbui dengan simulasi-simulasi sederhana yang banyak memberikan pengetahuan yang mungkin bagi kami ini hal baru.  Kami tersadar betapa pentingnya peran kita untuk ciptaan-Nya ini..lantas peran apa yang kau ambil tergantung jalan yang kau pilih. Peran hanya sebagai penikmat? Pencinta? Atau penyelamat alam? Atau hanya bisa berperan sebagai perusak alam? Satu hal yang menarik bagiku “ lakukanlah suatu hal yang bermanfaat sekecil apapun itu sesuai bidang dan kesukaanmu”. Aku mahasiswa sastra aku akan sedikit banyak peduli pada alam sesuai bidang kesastraanku.

Terimakasih tuhan telah Kau karuniakan pada kami hidup yang unik..dengan segala keindahan dan kenyamanan yang ada.akan kami jaga ini semua. 5 hari sudah kami lewati dengan segudang bekal yang telah kami pelajari.

Senin 1 desember 2014 pukul 10.00 kami sarapan dan mulai packing. 5 hari bagi kami waktu yang singkat untuk saling mengenal bahkan menyamakn presepsi menggali keilmuan. Namun tak apa di lima hari tersebut setidaknya kami tahu peran apa yang akan kita ambil untuk hari esok.

Setelah packing dilanjut dengan upacara penutupan. Hari itu nampaknya matahari di taman nasional meru betiri pun sulit melepas kebersamaan kami. Upacara penutupan usai dan dilanjut persiapan kembali menuju kantor  TNMB. Pukul 16.00 pak supir menghidupkan mesin truk yang kami naiki. Perjalan yang akan cukup melelahkan dengan medan jalan berbatu tanjakan, turunan bahkan menyebrang sungai. Akhirnya pukul 19.30 kami sampai di kantor TNMB. Melihat kondisi yang lelah kami harus sesegera mungkin memutuskan akan bermalam dimana.

Mapala memang identik dengan rasa persaudaraannya yang sangat kental dan erat. Hal itu yang membuat kesan tersendiri bagiku. Kami sempat menjadi seperti boneka yang diperebutkan sedulur-sedulur mapala di jember. Akhirnya kami putuskan untuk bermalam di mapala BEKISAR. Mapala politeknik negeri jember. Ya..kami cukup banyak berbagi cerita dengan teman-teman bekisar. Berbagi pengalaman cerita dan candaan-candaan kecil hingga dini hari. Mengingat besok kami harus pulang ke Daerah Istimewa Yogyakarta, kami pun segera beristirahat.

Selasa 2 Desember 2014 pukul 07.30 kami baru terbangun, mungkin efek kelelahan dan begadang semalam. Kami segera packing dan sarapan bersama teman-teman bekisar. Sarapan selesai kami siap berangkat oh ya sedikit cerita mengenai bekisar. Saya tertarik dengan hutan mini miliknya yang berada di belakang sekretariat mapala tersebut. Yang jelas mereka bersekretariat kecil namun punya lahan untuk menjaga oksigen kampus tetap terjaga..keren bukan

Tepat pukul 08.45 kami siap menuju stasiun jember. Dengan diantar teman-teman bekisar kami menuju stasiun, sesampainya di stasiun sudah berkumpul teman-teman dari jogja dan solo yang akan pulang dengan kereta yang  sama (sri tanjung). 9.18 kereta tiba dan kami pun bergegas masuk kedalamnya. 5 menit kendaraan beroda besi itu pun sudah melaju perlahan.

Sepanjang perjalan, kami asyik berbagi cerita yang diperoleh setiap dari kami. Ini itu yang entah menghabiskan berapa ribu kata yang kami tahu kami sangat menikmatinya. 20.30 waktu daerah Yogyakarta, kami sampai di stasiun lempuyangan.  Dengan suasana hati yang entah sulit terceritakan kami menemui teman-teman yang menjemput kami di stasiun. Beribu kata rasanya. Kami pun melanjutkan perjalan menuju sekretariat madawirna. Begitulah cerita kami..terimakasih tuhan hidupku sungguh unik…












oleh     : Fita Ardiana B-1119