( Pendakian Warga Baru 2014, Madawirna, Gn Sumbing Via Butuh Kaliangkrik )
Sumbing dengan dengan ketinggian 3.371 mdpl, itu yang
kami piih untuk perjalan kali ini. Dan jalur yang kami pakai adalah mbutuh,
kaliangkrik. Memang jalur ini sudah familiar dengan beberapa kegiatan MAPALA
UNY MADAWIRNA sebelumnya. Jumat, 13 Maret 2015, kami, rombongan dari MAPALA UNY
MADAWIRNA berjumlah sembilan orang yang beranggotakan Mas Coy, Mas Ismu, Alfi,
Son, Heni, Ginanjar, Brigita, Fajri, dan Sevi berangkat untuk melakukan
pendakian gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik.
Tepatnya pukul 16.00 WIB, kami berangkat dari sekretariat dengan sepeda motor berbonceng-boncengan.
Kurang lebih dua jam perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ke tempat
kediaman Mas Maman, salah satu purnawarga (sebutan untuk alumni Madawirna), yang rumahnya terletak di Kaliangkrik. Sambutan yang ala
kadarnya tapi sangat sarat akan kekeluargaan dari keluarga mas maman. Teh
hangat, kopi panas serta makanan tradisional kami lahap tak lupa makan malam
juga. Setelah sholat isya atau tepatnya
pukul 20.15 WIB kami berangkat menuju basecamp rumah kepala dusun dan bertambah
anggota mas maman yang akhirnya memutuskan untuk ikut pendakian, sehingga
personil kita menjadi sepuluh orang.
Sesampai di basecamp kami beristirahat sebentar,
sambil beramah tamah dengan kepala dusun, pak Lilik. Banyak
percakapan yang bicarakan, karna memang dulu MAPALA UNY MADAWIRNA selalu dan
sering berkegiatan di sumbing lewat jalur Kaliangkrik
untuk prosesi pemantapan 4 dalam proses Penerimaan Warga Baru. Setelah dirasa
cukup baru kita melakukan pemanasan dilanjut dengan berdoa bersama, kemudian mulai
mendaki pukul 22.00 WIB. Pendakian sampai camp 2 melewati tangga tanah yang
sangat panjang dan melelahkan jiwa raga kami. Sekitar 2 jam lebih kami berjuang
sekuat tenaga melewati tangga tanah itu menuju camp 2. Tapi rasa lelah kami
sedikit terobati dengan adanya pemandangan cantik dari atas. Bagaikan bukit
bintang versi lain, meeen.
Hawa dingin mulai menusuk tulang, di camp 2 kami langsung memasak air dan mendirikan tenda dome untuk bermalam. Kopi dan cemilan serta obrolan
hangat menjadi pengantar tidur kami untuk menyambut hari esok dan melanjutkan
perjalanan. Cuaca kurang bersahabat, kami terlelap diiringi hujan yang cukup
deras.
![]() |
Suasana pagi hari di Camp 2 |
Pukul 05.00 WIB, waktu yang dijadwalkan untuk bangun, PJ
bangun, Alfi, mulai membangunkan teman-teman lain. Hujan masih turun, membuat udara
semakin dingin dan kami enggan untuk berpisah dengan sleeping bag. Sekitar
pukul 06.00 WIB, semua personil baru berhasil bangun dan beraktifitas. Setelah sarapan, dengan semangat yang membara, kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Jalan yang kami lalui cukup terjal dan hanya cukup dilewati 1 orang, bertepi jurang. Tapi, lagi-lagi kami disuguhi pemandangan yang luar biasa tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Petchyaaah meen....!!
![]() |
Pemandangan di atas Camp 2 |
Sekitar satu jam berjalan, kabut mulai menyelimuti.
Walau begitu, semangat kami untuk menggapai puncak tidak surut. Kami terus
mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah. Setelah hampir perjalanan
1 jam kami sampai di camp 3 dan beristirahat, tidak lupa selfie. Setelah dirasa
cukup kami berjalan lagi, dan 1 jam kemudian sampai di sungai terakhir. Jadi,
total sungai yang kita lewati ada 9 sungai. Disini kami beristirahat lagi
karena banyak batu besar yang nyaman untuk melepas lelah.
![]() |
Istirahat melepas lelah di Sungai Terakhir |
Hujan rintik-rintik mulai turun, kami terus berjalan, akhirnya
sampai juga kami di camp 4 atau lebih kerap disebut Pohon Tunggal, karena memang
cuman ada satu pohon yang berdiri disitu. dan sampai pada puncak Kaliangkrik.
Kami tidak berlama-lama karena udara sangat dingin. Hari semakin sore, hujan
bertambah deras, kabut masih saja menyelimuti. Selanjutnya kami turun ke
sabana, naik ke kawah, lalu turun ke pasir putih. Di pasir putih kami jadikan
tempat untuk nge-camp. Hujan turun sangat deras. Dengan berbalut raincoat kami
mendirikan tenda dome dengan tubuh menggigil
kedinginan. Setelah dome berdiri kami membuat minuman hangat, bercengkrama
sebentar. Pukul 17.00 WIB kami tidur part 1. Malamnya kami bangun pukul 19.30
untuk memasak makanan. Menu yang kami pilih waktu itu adalah ayam goreng, tempe
goreng serta lotek. Walaupun sangat enggan rasanya keluar dome di udara
sedingin itu, kami harus beraktifitas dan makan agar tubuh lebih hangat.
Setelah semua selesai, makan dan beres-beres, kami tidur part 2, berdo’a supaya
esok cerah dan bisa sampai puncak sejati mengejar sunrise esok harinya.
![]() |
Milkyway di kawah pasir |
Pagi itu cuaca terlihat cerah, kami bangun pukul 04.30
WIB, dan bersiap untuk mendaki puncak sejati gunung Sumbing. Karena persiapan
terlalu lama, kami baru bisa mulai pendakian pukul 06.00 WIB, dan sampai puncak
pukul 06.20 WIB. Ada 8 orang yang ke puncak, yaitu mas Ismu, Son, Heni, Alfi, Ginanjar,Lili, Sevi, dan Fajri, sedangkan mas Coy dan mas Maman menunggu dome serta memasak. Puncak saat itu berkabut, tapi kami tetap
bersyukur atas karunia Tuhan atas keindahan alamnya. Tak lupa kami berfoto
bersama dengan banner 40th MAPALA UNY MADAWIRNA. Kabut tak kunjung memberi
kesempatan pada matahari untuk sekedar mengintip dan menyemburatkan sinarnya.
Kami turun setelah puas berfoto dan menikmati dinginnya puncak Sumbing.
![]() |
Puncak Sejati Gn Sumbing |
Di bawah, kami sudah disambut kopi dan susu hangat
buatan mas Coy. Kami melepas lelah sejenak, kemudian dilanjut
memasak untuk memberi asupan gizi yang cukup, tentunya bukan sekedar buat mie
dong. Menu pagi itu telur rebus dengan sayur yang dicampur sosis Setelah siap
kami melahap sarapan dan melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Sebelum
menuruni gunung, kami melakukan seremoni tradisi syukur ala Madawirna. Yaitu dengan membentuk lingkaran dengan tangan saling
berpegangan satu dengan yang lain sambil menyanyikan lagu Syukur dan di akhiri
dengan Doa bersama yang di pimpin oleh yang palig tua biasanya. Seremoni ini
kami lakukan bukan hanya untuk meneruskan tradisi semata, tetapi memang untuk
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Maha Kuasa atas
limpahan karunianya sehingga perjalanan kami ini bisa sampai Puncak dengan Selamat.
Doa kami panjatkan agar selalu di berikan kelancaran da keselamatan agar sampai
di rumah dengan tidak kurang suatu apapun agar kami bisa kembali untuk
menjelajahi keagungan Alam Ciptaan-Nya.
![]() |
Seremoni tradisi Syukur Madawirna |
Pukul 09.00 setelah melakukan
pemanasan, kami mulai berjalan. Kami sempat berhenti di kawah, sabana, puncak Kaliangkrik, sungai terakhir, untuk berfoto dan beristirahat. Hujan gerimis
mulai turun, kami terus berjalan menghiraukan rasa lelah kami. Di camp 2 kami
beristirahat dulu untuk memasak mie
sekedar untuk mengganjal perut dan untuk mengumpulkan tenaga sebelum menuruni tangga-tangga yang menurut kami sangatlah horor. Kenapa kami menyebut horror bukan karena ada Mystiknya tetapi karena
jumlah anak tangganya yang jumlahnya aduhai untuk di lalui. Bagi yang sering
mendaki gunung, anak Tangga di jalur pendakian adalah momok yang bisa membuat
dengkul sudah lemes duluan, apalagi pas melewatinya. Bagaikan test kekuatan
persendian kita. Apalagi yang sudah Tuaa.. kayak Mas Coy dan Mas Maman…selamat
menikmati tangganya Mas…hahahaha.
Tantangan terakhir akhirnya kami lalui, kurang lebih
1,5 jam kami berhasil sampai basecamp dengan selamat,
tetapi kondisi kaki tremor ( bergetar sendiri ) serasa
malayang-layang setelah melewati anak tangga yang
berjumlah ± 2600. Tak berselang lama setelah semua bersiap, kami berpamitan
pada kepala dusun pak Lilik dan mengendarai motor pulang ke Jogja. Sebelum
pulang kami mengantar mas maman ke rumah, dan disana disuguhi teh anget sepaket
dengan makan sore.
Alhamdulillah, rasa lelah kami terbayar dengan betapa
nikmatnya lukisan Tuhan YME. Alam adalah sarana terbaik untuk kembali mengingat
betapa kita terlampau kecil di antara kebesaran Tuhan. Terimakasih Tuhan,
Engkau masih memberi kami kesempatan untuk menjelajah dengan mesra keagungan
alam ciptaan-Mu.
![]() |